Pada tanggal 23 Februari 2001, konflik antara suku Dayak dan Madura di Sampit meledak menjadi kekerasan. Seorang warga Dayak diserang oleh sekelompok warga Madura, sehingga memicu kemarahan masyarakat Dayak. Kemudian, masyarakat Dayak melakukan aksi balas dendam terhadap warga Madura.
Jurnal dari Universitas Negeri Semarang (UNNES) mengulas upaya penyelesaian dan rekonsiliasi antara kedua etnis.
Bagi yang ingin mengetahui lebih lanjut tentang Tragedi Sampit, terdapat beberapa video yang dapat diakses online. Namun, perlu diingat bahwa beberapa video tersebut mungkin memiliki konten yang tidak sesuai untuk semua umur.
The Tragedi Sampit, also known as the Sampit conflict, was a violent clash between the Dayak and Madura communities in Sampit, Central Kalimantan, Indonesia, in 2001. The incident resulted in significant loss of life, displacement of people, and destruction of property. This feature aims to provide an in-depth look at the causes, events, and aftermath of the Tragedi Sampit, as well as the current situation and efforts towards reconciliation.
Approximately 100,000 Madurese were forced to flee Kalimantan. Many sought refuge in naval ships and were evacuated back to Madura or East Java, leaving behind homes and livelihoods.