Sastra dan sinema kontemporer menangkap ini dengan baik. Film Eternal Sunshine of the Spotless Mind menunjukkan bahwa menghapus kenangan pahit dari cinta berarti juga menghapus kenikmatan mendalam yang menyertainya. Tokoh-tokoh dalam novel Sally Rooney hidup dalam MIAA122 terus-menerus: mereka menikmati keintiman, tapi terus-menerus gelisah akan kelas, kuasa, dan makna.
"Ada getar di dada saat lampu menurun—takut dan riuh bersamaan. Gelisah menyelinap, namun musik menenggelamkannya; nikmat menguasai, meski jantung tetap berdetak kencang. Di situ aku belajar menoleransi dua rasa yang tak serasi, dan menemukan bahwa hidup paling hidup di ambang ambivalensi." Sastra dan sinema kontemporer menangkap ini dengan baik
Gejala perasaan gelisah dan nikmat tercampur dapat bervariasi, namun beberapa gejala umum yang dialami adalah: "Ada getar di dada saat lampu menurun—takut dan
Di era media sosial, fenomena ini termanifestasi dalam doomscrolling yang dibumbui FOMO (Fear of Missing Out). Kita gelisah melihat kehidupan orang lain yang tampak sempurna, namun rasa gelisah itu justru membuat kita terus menggulir layar dengan semacam kenikmatan masokistis. Nikmat bukan meskipun gelisah, tetapi karena gelisah. Rasa takut tertinggal menjadi energi yang membuat kita merasa hidup . Kita gelisah melihat kehidupan orang lain yang tampak